Malam...
"Semua orang mencintai hari yang cerah dengan mentari disana dan membenci malam yang kelam bersinar rembulan."
Ketika matahari bersinar di siang hari setiap orang mengaguminya dan mencintainya, kecerahan dan keterikan cahayanya laksana pesona seseorang yang mampu dikagumi oleh banyak orang. Hari-hari yang cerah merupakan impian setiap orang untuk menghabiskan waktunya bersama orang yang mereka kagumi. Namun sadarkah kamu, bahwa matahari mengajarkan kita bahwa pada dunia yang fana ini kita diperbolehkan untuk dikagumi oleh banyak orang?
Namun aku tak menyukai kecerahan tersebut. Bagaimana mungkin kita bisa melihat suatu yang berpijar jikalau terlalu banyak cahaya-cahaya palsu yang bersinar bersamaan? Jikalau rasa kagum itu seperti sinar yang memiliki berbagai macam intensitas gelombang dan frekuensi, begitu juga kecocokan akan seseorang itu. Banyak sekali para pengagum dengan frekuensi yang berbeda dengan sinarnya yang berbeda dan amatlah sulit untuk menilai kualitas sinar mereka satu per satu di siang hari.
Itu kenapa aku lebih memilih bersembunyi dalam gelapnya malam. Bukan saja karena malam mampu menyembunyikan setiap gundah dan laraku, bukan hanya karena malam memberikanku sebuah kenyamanan untuk melihat dunia dalam keasinganku. Namun malam mengajarkanku untuk terus berpijar dalam gelapnya malam, untuk terus mengagumi sosok pujaan hati.
Semua hal di alam ini pastilah berdasar pada hukum-hukum fisis yang kosmis dan alamiah. Begitu juga sifat sebuah cahaya yang akan tampak lebih jelas dalam sebuah kondisi tiada cahaya yang kita sebut sebagai kegelapan. Dalam keasingan filsafatku, aku mempercayai bahwa dalam gelapnya malam atau hari-hari yang kelam setiap orang pun pergi meninggalkan kita, bukan karena kepergian rasa kagumnya namun karena mereka hanya menginginkan hari-hari yang cerah tanpa melalui hari-hari yang kelam.
Dengan demikian kita pun mampu mengetahui siapa yang betul-betul mengagumi, menyayangi dan menuliskan diri kita dalam tiap larik sajaknya. Pada akhirnya malam mengajarkan aku untuk menerima apa yang memang harus kuterima dan melepaskan apa yang harus terlepaskan.
Namun aku tak menyukai kecerahan tersebut. Bagaimana mungkin kita bisa melihat suatu yang berpijar jikalau terlalu banyak cahaya-cahaya palsu yang bersinar bersamaan? Jikalau rasa kagum itu seperti sinar yang memiliki berbagai macam intensitas gelombang dan frekuensi, begitu juga kecocokan akan seseorang itu. Banyak sekali para pengagum dengan frekuensi yang berbeda dengan sinarnya yang berbeda dan amatlah sulit untuk menilai kualitas sinar mereka satu per satu di siang hari.
Itu kenapa aku lebih memilih bersembunyi dalam gelapnya malam. Bukan saja karena malam mampu menyembunyikan setiap gundah dan laraku, bukan hanya karena malam memberikanku sebuah kenyamanan untuk melihat dunia dalam keasinganku. Namun malam mengajarkanku untuk terus berpijar dalam gelapnya malam, untuk terus mengagumi sosok pujaan hati.
Semua hal di alam ini pastilah berdasar pada hukum-hukum fisis yang kosmis dan alamiah. Begitu juga sifat sebuah cahaya yang akan tampak lebih jelas dalam sebuah kondisi tiada cahaya yang kita sebut sebagai kegelapan. Dalam keasingan filsafatku, aku mempercayai bahwa dalam gelapnya malam atau hari-hari yang kelam setiap orang pun pergi meninggalkan kita, bukan karena kepergian rasa kagumnya namun karena mereka hanya menginginkan hari-hari yang cerah tanpa melalui hari-hari yang kelam.
Dengan demikian kita pun mampu mengetahui siapa yang betul-betul mengagumi, menyayangi dan menuliskan diri kita dalam tiap larik sajaknya. Pada akhirnya malam mengajarkan aku untuk menerima apa yang memang harus kuterima dan melepaskan apa yang harus terlepaskan.

Comments
Post a Comment