Posts

Showing posts from 2017

15.11.2017

Pernahkah kau dengar sebuah kisah  Di bawah gemerlap mati hidupnya tujuh purnama? Seonggok jiwa tua berbicara dalam kebisuannya Menghitung sisa hari yang masih dimilikinya Pada penghujung hari yang dinantikan Di kala jiwa tua ini telah lelah berkelana Dan tak lagi benderang maupun rupawan Hanya sunyi yang mampu ia bawa ke alam baka Perlahan sang jiwa tua itu hidup lagi Dalam hausnya ia berkelana Membawa beban sepanjang hidup barunya Oh jiwa tua terlahir lagilah engkau menjadi unta Jika memang kebodohan menjadi alasanmu untuk memikul beban? Apakah ketidakpastian menjadi sebuah tuntutan akan langkahmu? Dan jika kematian lagi-lagi akan menghampirimu Sanggupkah engkau menghapuskan derita dalam kesendirianmu? Dan sekali lagi jiwa tua itu harus mati Tidak ada lagi belengguh yang harus ia pikul Hanya kebebasan yang terdapat dalam aumannya Oh jiwa tua terlahir lagilah engkau menjadi singa Tak ada lagi sakit dan derita yang mampu kau rasa ...

22.10.2017

Once again loneliness does exist and has caused an addiction of living in solitude in this universe. Do you even still remember the moments that should be forsaken without traces? Well I'm living well now with all of the burden, tenderness and privilege that I could only gain for being a visionary man.  Some folk believe in time and explicitally they say that it could heal either all pain or suffering that one had experienced. But they never realize or maybe will to know that time could dilatate its seconds, its minutes and also hours.  Something that you call as past could maybe a present that you're still living in. Or maybe you are someone who could not move on.  Well, nothing left here except loneliness and solemnity. Three years had passed and I'm still the same or maybe the better than I was before, am not I?  I'm still drinking coffee, I'm still staring at the moon in starry night and still being pluviophile. Besides them I did some runaway fr...

Lady of Wednesday

My dearest Lady of Wednesday, On Monday loneliness was born, Particularity pursues happiness within you, Will you still be there when loneliness condensed? My dearest Lady of Wednesday, For decades wind has being blown over longing, Perpetually tenderness shall not be existed yet, Will you be the breeze after the leaving of the north wind? My dearest Lady of Wednesday, You are always depicted in each uncertainty, Your smile is the deception in my delusion, Will you hear my voiceless confession at the end?

Berbincang Dengan Sang Hujan

Image
"Niraksara perbincangan antara sang Pujangga dan Hujan.  Sampai kapanpun kebisuan merupakan satu-satunya bahasa  yang bergejolak dan mempertemukan mereka." Dengarlah gemuruh hujan pada malam hari ini; Dengan irama tetesannya kebisuan dicurahkan; Dalam kegelapan jua para pencari ikut melangkah; Menyusuri persimpangan jalanan yang basah; Mungkinkah sudah keraguan mereka terhapuskan? Ataukah praduganya telah menjadi satu bentuk prasangka, Yang sekiranya kembali menolak untuk lagi-lagi berbicara? Dengan satu sapuan halusnya kembalilah dikau sunyi menjadi hening, Hening menjadi tiada, seperti tiada memunculkan hampa; Lalu hampa pergi meninggalkan luka yang menganga pada dikau; Hanya kesembuhan dari hujan yang dinanti mereka yang terluka; Seperti juga berkat yang dinantikan dikau yang tak lelah menanti; Memegang erat setiap butiran yang mungkin tak mampu dimiliki; Mendengar irama yang selamanya tak mampu dimengerti; Bersabdalah hujan ...

11.06.2017

A Poet always fools himself Say he loves, but he doesn't Even when his words are gone Will he accept to let them go? He ends up being lonely Many times he dazzled, the more he realized Each pain is being written through reality Why won't it be eased by his poem? If love is all that means to him Happiness is the only reason to stop writing At the end he sets all free beyond metaphors Why doesn't he just let it flow through time? Words only keep growing stronger Sentences were born from metaphors womb She's the gap in ballad of this poet. But why do his feelings stuck on this poem?

06.04.2017

Pada hari yang baik di bulan yang baik ini; Hujan turun lagi membasahi segenap pertanahan; Dibalik bulirnya seorang pujangga termenung; Menuliskan kembali lirik-lirik tersedih dalam puisinya: Wahai imaji hujan di masa lalu; Pernah kulupa namun mengapa belum kurela? Wahai melodi hujan di masa lalu; Kembali kau ketuk palung paling dalam; Kehalusan suara wanita yang pernah ada; Mengapa tak lenyap bersama kejatuhanmu? Apakah lagi-lagi aku berdiri pada persimpangan yang sama? Penuh kabut, memudar namun seyogianya belum sirna; Tahun demi tahun telah berlalu bersama kejatuhan hujan; Namun mengapa kesepian tak pernah berlalu? Walau kesedihan menolak segala kefanaan; Yang belum berubah menjadi sebuah kejadian; Yang menolak segala bentuk pengulangan; Apakah kekosongan merupakan bentuk realita tertunggal Yang selamanya akan terus berbahasa dalam kebisuannya? Mengapa masih aku mengaku yang tertabah; Jika musibah tak mampu melenyapkan; Segala terpaan angin rindu yang pernah ...

01.04.2016

Berbahagilah mereka yang tak pernah berjumpa seseorang, yang tiba-tiba secara misterius menjadi alasan dibalik sumringah senyumnya. Berbahagialah mereka yang tak pernah dikunjungi oleh sang nasib, masih sendiri mampu menikmati kekosongan hidupnya. Apakah aku jatuh dalam sebuah kebolehjadian, menjaga jarak untuk dapat mengagumimu. Mengucap pesan rindu ketika kau tak mampu mendengarnya. Menulis sajak walau kau tak mampu memahaminya. Dan waktu akan terus berputar pada porosnya; Namun bisakah aku selalu hadir dalam mimpimu, Mengagumi setiap keindahanmu dari keasingan duniaku?

Partikel Kosmis

Image
Dalam tatanan sebuah semesta acap kali para pengembara menggantung tanya akan setiap bentuk pemikiran yang perlahan bertransformasi menjadi partikel-partikel rasa. Partikel yang perlahan menggumpal membentuk sebuah gugusan molekul yang suatu saat bisa terekontstruksi maupun dekonstruksi tergantung dengan besar energi afeksi yang diberikan oleh lingkungan ke dalam sistem atau sebaliknya.  Layaknya setiap materi di semesta yang tidak luput dari kuasa hukum alam, begitu juga seyogiyanya molekul tadi yang tak luput dari lintasan ruang yang kita sebut sebagai medan gravitasi. Perlahan namun pasti gugusan partikel tadi akan tertarik menuju sebuah gugusan materi yang diyakini memiliki kesamaan frekuensi lemah dan juga menjadi pusat semesta bagi seseorang. Seakan ia tertarik, seakan ia terlepas dan kebolehjadian inilah yang tetap membuat ia terus mengorbit bahkan melalui lintasan tahun cahaya. Ada kalanya jarak lintasan itu jauh, aphel dan dekat, perihel namun gugusan tadi t...

Beberapa Kemungkinan

Image
Adalah sebuah kebolehjadian yang mempertemukan dua entitas dalam kefanaan. Mungkin, m alam  ditakdirkan untuk mendatangkan perasaan; Seperti gundah mereka yang berjalan sendirian; Mungkin, angin bersemilir untuk membisikkan desahan; Seperti sebuah nama bagi mereka yang kesepian; Mungkin, gerimis tercurah untuk menitiskan pemikiran Seperti kerinduan bagi mereka yang kasmaran.
Image
Dan kembali sekarang saya melihat gejala itu dimana-mana pada mereka yang mengaku beragama dan bertuhan. Mereka dengan khusuk membina sebuah keintiman ilahi dengan sesosok figur mereka kultuskan. Para orang percaya ini melakukan segala macam kultus, ritual dan prosesi pengagungan yang didasari oleh segala bentuk kepercayaan mereka. Mereka tunduk terpasung pada doktrinasi-doktrinasi dan dogma-dogma yang berdiri seperti pilar-pilar gagah yang dipercaya menggantungkan seutas nadi kehidupan mereka. Problematis di sini adalah para manusia tidak lagi memiliki segala macam kuasa untuk menghindari segala macam bentuk penyimpangan kemanusiaan. Apa yang mereka dambakan sebagai kebebasan berkehendak dalam berpikir dan bertindak serta pencerahan telah tertutup ajaran-ajaran diskursif yang terus digenealogiskan secara kontinual dari satu generasi ke generasi. "Bukankah bila Sang Numinosum merupakan sumber dari segala macam kebaikan sebaiknya tidak ada yang dibenarkan ? Semuanya mem...
Image
"Pada semesta semua berdasar pada sebuah pola yang sama. Berbasis pada tatanan kosmis penuh keteraturan dan juga distorsi. Imaji abu dari asal muasal hingga akhirannya. Realita jua yang kita cari dalam basis nihilitas. Peranggai eksistensi yang melahirkan beribu tanya tentang ineksistensi. Ilusi, hanyalah konsepsi yang sedetik kita mampu selami. Dimensi hanyalah garis lekukan waktu yang terus berlari." -29.1.2017-