Partikel Kosmis
Dalam tatanan sebuah semesta acap kali para pengembara menggantung tanya akan setiap bentuk pemikiran yang perlahan bertransformasi menjadi partikel-partikel rasa. Partikel yang perlahan menggumpal membentuk sebuah gugusan molekul yang suatu saat bisa terekontstruksi maupun dekonstruksi tergantung dengan besar energi afeksi yang diberikan oleh lingkungan ke dalam sistem atau sebaliknya.
Layaknya setiap materi di semesta yang tidak luput dari kuasa hukum alam, begitu juga seyogiyanya molekul tadi yang tak luput dari lintasan ruang yang kita sebut sebagai medan gravitasi.
Perlahan namun pasti gugusan partikel tadi akan tertarik menuju sebuah gugusan materi yang diyakini memiliki kesamaan frekuensi lemah dan juga menjadi pusat semesta bagi seseorang. Seakan ia tertarik, seakan ia terlepas dan kebolehjadian inilah yang tetap membuat ia terus mengorbit bahkan melalui lintasan tahun cahaya.
Ada kalanya jarak lintasan itu jauh, aphel dan dekat, perihel namun gugusan tadi tidak akan kehilangan esensinya, mungkin saja massanya berubah atau panjangnya mengalami elongasi. Tapi bukankah waktu selalu berdilatasi tergantung pada seberapa cepat kita mempertahankan kecepatasan trayektori kita?
Yang terlalu cepat bergerak akan terbakar hangus tak bersisa sedangkan yang terlalu lambat tak akan memiliki kesempatan untuk bertubrukan. Bukankah energi kekal namun mengapa molekul tadi tidak mampu bertransformasi menjadi kata-kata yang sekiranya tak memiliki wujud manapun? Bagaimana energi potensial itu sekiranya tak mampu terlepas dan merambat untuk menghantarkan setiap partikel di dalamnya.
Pada akhirnya hanyalah anomali yang ditemukan para pengembara ruang dan waktu yang terpenjara oleh massa, dimensi dan waktu seorang wanita.

Comments
Post a Comment