Dan kembali sekarang saya melihat gejala itu dimana-mana pada mereka yang mengaku beragama dan bertuhan. Mereka dengan khusuk membina sebuah keintiman ilahi dengan sesosok figur mereka kultuskan. Para orang percaya ini melakukan segala macam kultus, ritual dan prosesi pengagungan yang didasari oleh segala bentuk kepercayaan mereka. Mereka tunduk terpasung pada doktrinasi-doktrinasi dan dogma-dogma yang berdiri seperti pilar-pilar gagah yang dipercaya menggantungkan seutas nadi kehidupan mereka. Problematis di sini adalah para manusia tidak lagi memiliki segala macam kuasa untuk menghindari segala macam bentuk penyimpangan kemanusiaan. Apa yang mereka dambakan sebagai kebebasan berkehendak dalam berpikir dan bertindak serta pencerahan telah tertutup ajaran-ajaran diskursif yang terus digenealogiskan secara kontinual dari satu generasi ke generasi.
"Bukankah bila Sang Numinosum merupakan sumber dari segala macam kebaikan sebaiknya tidak ada yang dibenarkan ? Semuanya memang diperbolehkan."
Ketidakmampuan untuk tunduk dalam sebuah sistem secara tidak langsung telah merubah pandangan kebaikburukkan nilai menjadi kebenarsalahan sebuah sistem. Mereka taat, rajin mengunjungi tempat ibadah dan saleh. Namun apa satuan sebenarnya? Apakah iman yang selalu dibanggakan menjadi tolak ukur tingkat kesucian seseorang? Apakah iman menjamin seseorang untuk tidak terjatuh dalam dosa? Dan kembali dosa menjadi hantu yang terus menghantui para orang saleh.
Mereka yang keranjingan beribadah dan mengunjungi tempat-tempat ibadah namun seyogiyanya masih menyimpang jalan hidupnya. Mengaku beriman namun hipokrat jalannya. Bukankah mereka setidaknya para penderita kompleksitas Oedipus? Mengawini Tuhan dengan mengucap janji berlandaskan buku dengan penuh fantasi dan interpretasi? Mencumbu Tuhan dengan ritual-ritual yang mereka lakukan dan kemudian membunuhnya secara keji dengan segala sumpah serapah dan kemunafikan tingkah lakunya?
Tidaklah beda mereka dengan kaum barbar yang tidak punya etika berbasis logika. Yang kontra hanyalah para barbar merupakan kafir sejati, sedangkan mereka orang beragama yang seyogiyanya mengkafirkan dirinya sendiri. Bahkan kata binatang jalang sekalipun tidak dapat melukiskan kekejian mereka yang telah menista kemanusiaan dengan kontaminan busuknya.
Mereka lah yang omnipoten dalam imaji yang mereka ciptakan sendiri, para pecundang di kerasnya realitas hidup.
Jika saya memiliki kekuasaan tak terbatas, saya akan mengutuk kegagalan penciptaan Manusia dan juga problematika yang telah diciptakan melalui itu. Meruntuhkan tembok-tembok diferensiasi dengan grafiti-grafiti agama dan juga gambar-gambar rasial tendensius seolah menjadi kesenangan pribadi sekaligus juga sebuah monumen kebebasan dari segala macam bentuk indoktrinasi yang kita namai "Iman".
Dan kerapkali kita renungkan, kerapkali kita bertanya, kerapkali kita mencari. Namun jawaban itu tidak pernah ditemukan. Kembali kita dipermainkan oleh substansi tunggal itu. Keabsolutan yang sekiranya terlalu soliter untuk ditangkap oleh modi-modi kita. Dan akhirnya tragedi tak pernah dapat dihentikan dan kitalah yang menjadi tumbal dalam ritual penebusan ini.

Comments
Post a Comment