28.11.2012
"Sebuah balada dibuat dibawah purnama;
Dengan rampai kata menyusun sajak mencoba jua mengutara rasa;
Dalam penantian dibawah cahaya perak;
Mencoba melukis senyum yang terlukis dalam terangnya purnama..."
-28.11.2012-
Rintih erang agamku dalam malam kelam penuh penantian dirimu;
Bayangmu terlukis dalam 'tiap lintang langit senjaku;
Jiwa merana, belengguh rasa, cekikan kata yang tak dapat diutarakan;
Kurampai kata menggambar bayangmu bersama senandung rasa hati ini;
Menggapai sosok yang begitu dekat namun tak jua dapat kuraih;
Kelikir berani yang tak sebesar jiwa pujangga ini;
Kupendam rasa dalam kalbu ketika kata mengalir bersama air mata dipayungi hujan;
Mampukah kau dengar bisik namamu dalam kerinduanku malam ini?
Purnama bersinar menebar kerinduan dalam jiwaku yang merana mendambamu;
Semburat awan membentuk wajah dengan senyum di lesung pipimu;
Seakan kalbuku melayang menari dalam mimpi yang hanya bisa kusemayami sesaat;
Menegak rasa kuterlarut tangis dalam lirih hati yang meradang rindu;
Dibawah purnama binar penantian ku berlangsung, dibawah hujan tangisku tercurah bagimu;
Terbelengguh rindu 'ku mendamba sosokmu yang tak lekang oleh kala;
Tetes kataku mengalir menitis melumasi derita rinduku malam ini;
Kau yang berada disana menatap rembulan pada langit matra ini;
Sadarkah kau jika kalbuku mengawasimu setiap hari;
Senyummu selalu kudamba kubingkai dalam relung hati terdalam;
Apakah rampai kata ini mampu terhantar menembus hatimu?
Apakah 'ku mampu mengutarakan rasa dalam tiap kataku kepadamu?

Comments
Post a Comment